Sulap yang palsu
“Sulap” bila anda membolak-balik kata dalam tanda petik tersebut maka anda akan mendapatkan sebuah kata yang lain yaitu “Palsu”. Begitu mendengar kata “Sulap” mungkin Anda langsung teringat dengan kelinci yang keluar dari topi, burung dara putih, kotak berisi manusia dengan selusin pedang menembus ke dalam kotak dan keluar disisi lainnya, atau Anda akan terbayang wajah misterius David Copperfield yang sedang melayang ringan atau menembus tebalnya great wall. Hobby belajar sulap sejak kecil menjadikan saya sebagai sasaran tepat untuk bertanya “bagaimana itu bisa terjadi?” dan “apa rahasia dibalik hilangnya patung liberty atau bengkoknya sendok ?” .. dengan berlindung di balik alasan yang selalu sama yaitu “kode etik pesulap” saya merasa aman dan tak dikejar-kejar rasa penasaran mereka.
Dengan alasan yang sama pula rahasia trik-trik sulap diatas tidak akan saya bongkar dalam tulisan ini. Walaupun tidak mudah untuk menjelaskan inti sulap hanya lewat tulisan, ijinkan saya membagikan sesuatu yang jauh lebih penting dibandingkan dengan permainan sulap itu sendiri, dimana bila Anda menerapkan syarat-syarat dibawah ini, dijamin Anda akan lebih mengerti tentang filosofi sulap….atau malah jadi lebih bingung
Magic to Logic
Magic sering dihubungkan dengan hal yang bersifat gaib, diluar penalaran atau dikaitkan dengan dunia mistik atau perdukunan…sah-sah saja apa yang telah dipersepsikan masyarakat dengan kata magic. Tanpa ingin merubah apalagi memutus benang yang sudah ada di benak para pembaca, saya ingin mengajak pembaca untuk bermain-main ke masa lalu, sewaktu sang jenius Thomas Alfa Edison menciptakan gramophone, pada saat itu orang-orang yang mendengarkan mengira suara yang keluar dari alat itu adalah suara setan, tidak masuk dalam logika mereka bahwa ada alat bisa mengeluarkan suara musik atau suara manusia. Kemampuan nalar manusia pada saat itu belum dapat menangkap apa yang dilihatnya, dan banyak dari mereka langsung mengambil kesimpulan yang sederhana bahwa ini pasti dibantu oleh “sesuatu yang diluar sana”. Apa yang kita tidak tahu itu kita sebut sebagai magic, sampai saatnya kita bisa menerimanya dan kemudian hal itu kita sebut sebagai logic. Sekarang ambilah handphone Anda dan pandangilah baik-baik, apa yang terjadi bila dengan HP ditangan Anda, Anda mundur ke abad ke 18, apa komentar orang-orang begitu melihat benda di tangan Anda?
Nah, apa bedanya dahulu dan sekarang? apa yang dilakukan pesulap adalah apa yang tidak diketahui oleh banyak orang, jadi syarat yang pertama untuk mengetahui trik-trik sulap adalah jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan, kemudian buka pikiran Anda atau open mind. Begitu seseorang menonton permainan sulap dan dengan cepatnya mengambil kesimpulan bahwa apa yang dilihatnya adalah sesuatu yang “dibantu kekuatan lain” maka otak kita akan mandeg dan tidak mau mencari jawaban atas rahasia dibalik permainan tersebut.
Persepsi
Kabar gembira bagi mereka yang suka dengan psikologi…sulap adalah psikologi, 50 persen yang dipelajari oleh pesulap adalah hal yang bersifat psikologi, 40 persen adalah sains atau ilmu pengetahuan, sementara 10 persennya art atau seni. Banyak dari kita melihat pertunjukan sulap hanya dari sudut art nya saja, oleh karena itu susah menangkap rahasia dibaliknya, karena Anda hanya terfokus di porsi 10 persen saja. Bila Anda sedang ujian dan bisa menjawab 10 persen saja maka bisa dipastikan Anda akan tidak lulus bukan?
Hal terbesar yang dipelajari pesulap bukanlah kecepatan tangan, bukanlah mantra Abrakadabra, atau melakukan ritual tertentu untuk mendapatkan kesaktian dan sejenisnya. Hal terbesar yang dipelajari oleh pesulap adalah psikologi pesulap yaitu cara berpikir manusia, cara manusia melihat segala hal. Setelah mempelajari bagaimana manusia berpikir, pesulap akan melakukan gerakan atau berbicara dengan cara tertentu sehingga menimbulkan suatu persepsi di benak penonton. Persepsi inilah yang paling penting dalam pemainan sulap. Dalam marketing ada istilah yang sangat populer yaitu perception is more important than reality, persepsi lebih penting dari kenyataan. Contohnya bila kita pergi ke supermarket, dan ingin membeli air mineral dalam kemasan, disitu ada dua pilihan, yang satu dengan merk terkenal dan yang satunya tanpa merk, atau dengan merk yang sangat asing buat kita, mana yang kita pilih? Sebagian besar dari kita akan memilih yang ada merk yang kita kenal, walupun harus membayar dengan harga yang jauh lebih tinggi. Kenapa ini terjadi?? bukankah sebagian besar dari pembeli tidak tahu dengan pasti bahwa produk bermerk airnya lebih murni daripada yang tak bermerk? namun mengapa kita mau mengorbankan uang yang lebih banyak untuk sebuah merk? Persepsi tentang merk yang dikaitkan dengan sesuatu yang baik-lah yang membuat kita yakin, bukan pada kenyataannya.
Di jaman serba maju ini, dimana informasi bukan sebuah barang mahal lagi, manusia bangga akan kemajuan yang telah dicapai, namun dari sisi pesulap pencapaian dalam peradaban modern ini membawa banyak sekali kelemahan-kelemahan yang yang telah dan akan terus dimanfaatkan oleh pesulap untuk menghibur orang lain. Informasi yang tersebar cepat dan menjangkau seluruh pelosok membuat mayoritas manusia berpikir atau memandang segala sesuatunya dengan lebih terarah pada apa yang menjadi kesepakatan publik, atau bisa dibilang lebih sempit, kita seolah-olah tidak mempunyai waktu untuk berpikir dengan cara yang berbeda. Kita lebih dikendalikan oleh persepsi publik daripada persepsi dari dalam diri kita sendiri. Misalnya Anda sedang duduk di halte bis dan tiba-tiba berhentilah sebuah sedan jaguar keluaran terbaru di depan Anda, kita secara langsung akan langsung berpikir bahwa “yang punya mobil ini pastilah orang yang kelebihan uang”. Sementara anda belum habis berpikir, keluarlah anak ABG dari pintu pengemudi, Anda mungkin langsung berpikir “pasti dia anaknya orang kaya”.
Kenyataan bahwa dia anak orang kaya atau tidak, siapa yang tahu? Namun yang terjadi di pikiran kita adalah kita men”cap” dia anak orang kaya, titik.
Sama seperti di permainan sulap, persepsi hanya terbentuk di kepala kita, bukan pada kenyataannya. Bila Anda melihat David Copperfield menembus tembok Cina, sebenarnya itu adalah persepsi kita semua, apakah kita melihatnya dia benar-benar menembus tembok atau “seolah-olah” dia menembus? kata “seolah-olah” inilah kunci dari permainan ini, kita percaya pada indera kita dan kita melihatnya sebagai menembus, bukan “seolah-olah” menembus, inilah masalahanya. The way we see problem is the problem, cara kita memandang masalah, itulah masalahnya..
Pada anak kecil, persepsi belum banyak terbentuk dan buat saya pribadi, bermain sulap dihadapan anak kecil lebih sulit daripada dihadapan orang dewasa. Anak kecil melihat segala sesuatu dengan apa adanya, sedangkan pada orang dewasa persepsi sudah menancap kuat dibenaknya. Tidak bisa dipungkiri, pengaruh media memiliki peran yang besar dalam pembentukan persepsi manusia, film misteri, sinetron, berita dan segudang iklan membanjiri kepala kita dan membuat persepsi yang seragam tentang banyak hal.
Tidak ada yang salah dalam memberi penilaian, mengevaluasi atau memandang kejadian yang ada dihadapan kita, namun inilah yang para pesulap pelajari, mereka melakukan hal-hal yang berada diluar kebiasaan berpikir manusia, atau dalam bahasa lainnya think out of the box sehingga susah untuk ditangkap oleh mereka yang cara berpikirnya mengikuti arus…alias biasa-biasa saja (mainstream).
Jurus selanjutnya untuk mengetahui rahasia sulap adalah berpikirlah dengan cara berbeda, jangan berpikir seperti orang biasa.
Fokus
Jika pesulap menutup suatu benda dengan selembar kain, maka bisa dipastikan bahwa semua mata akan tertuju ke sesuatu yang tertutup tersebut. Ini yang disebut fokus. Fokus adalah pilihan, kita bisa memandang kearah depan atau ke belakang, masih ingatkah Anda dengan prosentase yang pernah disebutkan diatas mengenai sulap, kebanyakan kita hanya fokus ke 10%-nya, ke seni atau art-nya. Kita gampang sekali terpengaruh oleh bahasa tubuh pesulap, kemana arah tubuh dan tangannya bergerak, mata kita pasti selalu mengikutinya. Kemampuan mengendalikan Fokus adalah satu hal yang pasti dimiliki oleh pesulap. Pesulap tahu bagaimana untuk mengajak orang berpikir tertentu, melihat hal tertentu atau sebaliknya, seperti mengalihkan perhatian, menghancurkan konsentrasi dan masih banyak lagi. Kalau dalam hidup anda sering mendengar bahwa kita harus fokus dalam segala hal, sewaktu nonton sulap, jangan fokus, jangan turuti apa yang diinginkan pesulap dan mungkin titik terang rahasia permainan akan muncul.
Apa yang ingin disampaikan pesulap bukan hanya sebuah hiburan dan rasa penasaran, tapi lebih dari itu… sebuah pelajaran hidup yang dalam, untuk supaya kita selalu berpikiran terbuka, belajar dari mana saja, dengan siapa saja dan tidak terlalu cepat mengambil kesimpulan bila kita tidak cukup mengetahui. Permainan sulap mengajarkan kepada kita untuk berpikir diluar kotak, menjadi kreatif, melihat setiap kejadian dari sudut pandang yang berbeda, tidak dikendalikan situasi, melainkan mengendalikan fokus dalam diri kita.
Ada ribuan pelajaran lain dalam setiap permainan, bila kita mau duduk sebentar dan menyediakan waktu buat tubuh untuk berpikir dan merenung, sampai-sampai ku berpikir lebih baik saya tidak mengetahui apa-apa tentang sulap sehingga diri ini bisa terperangah dan mendapatkan rasa penasaran sewaktu menonton permainan palsu ini…
Bunuh diri ternyata menular
Sudah sejak lama saya mengamati sekaligus bertanya-tanya tentang fenomena “menular” yang terjadi di sekitar kita. Mungkin kata “menular” identik dengan penyakit. Namun yang akan kita bahas kali ini bukan penyakit, tetapi lebih ke kejadian-kejadian yang kita lihat, dengar atau baca. Bila kita perhatikan akhir-akhir ini, terjadinya suatu kecelakaan pesawat tidak lama disusul lagi dengan kecelakaan pesawat lainnya. Sebuah pesawat swasta nasional mengalami kecelakaan di Solo beberapa tahun lalu, dalam kurang dari 2 x 24 jam, tiga kecelakaan pesawat terjadi lagi di negeri ini. Anda mungkin masih ingat beberapa bulan yang lalu, kecelakaan kereta api juga terjadi dalam waktu yang berdekatan.
Menariknya, kejadian yang berurutan ini tidak sekadar hanya berlaku pada kecelakaan saja. Pengambilan keputusan tentang hal-hal yang sangat personal seperti perkawinan dan perceraian juuga mempunyai efek yang menular. Pernikahan para selebritas dengan orang asing beberapa waktu lalu dan maraknya perceraian akhir-akhir ini mungkin menjadi contoh yang baik untuk itu. Fenomena kesurupan di Indonesia pun terjadi secara menular pada anak-anak sekolah dasar. Dan yang sangat menyesakkan adalah fenomena bunuh diri pada anak-anak atau remaja akhir-akhir ini.
Mungkinkah ini semua menular? Apa ini rasional? Apa yang menyebabkan ini semua? Mengapa ini semua bisa terjadi? Bukankah selama ini hanya penyakit fisik yang bisa menular?
Pada awalnya, hal-hal di atas saya anggap sebagai peristiwa kebetulan semata. Namun setelah kejadian demi kejadian berulang, pastilah ini bukan semata kebetulan.
Dalam pencarian jawaban, saya bertemu dengan pemikir cerdas, Malcolm Gladwell, lewat bukunya Tipping Point. Malcolm mengambil contoh dari penelitian yang dilakukan di Kepulauan Mikronesia, kepulauan di Laut Pasifik, mengenai bunuh diri pada anak-anak atau remaja usia 15-20 tahun.
Sebelum tahun 1960, belum pernah ada kejadian bunuh diri yang dilakukan oleh remaja di negara tersebut. Namun setelah peristiwa bunuh diri pertama terjadi dan diberitakan di media massa setempat, angka bunuh diri pada remaja langsung meroket. Sebagai perbandingan, angka bunuh diri di Amerika Serikat sampai akhir tahun 80-an adalah 22 dari 100.000 penduduk, sedangkan di Mikronesia angka bunuh diri sebesar 160 jiwa dari 100.000 penduduk. Ini berarti tujuh kali lipat, sebuah angka yang luar biasa tinggi.
Menariknya, mereka melakukan bunuh diri dengan cara yang hampir serupa. Para remaja di Mikronesia ini selalu mencari tempat yang sepi lalu mengambil tali dan membuat simpul jerat, tapi mereka tidak menggantung diri seperti umumnya di Indonesia. Mereka mengikatkan tambang ke sebuah dahan rendah atau daun pintu kemudian merebahkan tubuh ke depan sampai tambang itu menjerat leher dengan ketat dan memutus aliran darah ke otak.
Yang lebih menyedihkan dari epidemi atau kejadian menular, menurut antropolog Donald Rubinstain, yaitu semakin banyaknya yang melakukan bunuh diri. Sebelumnya hanya remaja, namun berkembang menjadi anak-anak berusia 8-9 tahun, bahkan akhir-akhir ini ditemukan mereka yang berusia 5- 6 tahun. Ini sangat memprihatinkan, apalagi sejumlah anak-anak selamat dari percobaan bunuh diri, ketika ditanyai, beralasan hanya coba-coba Mereka melakukannya karena melihat atau sering mendengar anak-anak yang melakukan bunuh diri.
Peranan media
Seorang pelopor dalam bidang penelitian bunuh diri, David Philips, dari University of California di San Diego telah melakukan penelitian dengan mengkliping berita bunuh diri yang dimuat di media massa. Profesor tersebut menemukan bahwa ada korelasi positif antara pemberitaan media massa tentang bunuh diri dengan tingkat bunuh diri di daerah penyebaran media massa tersebut. Semakin besar jangkauan atau wilayah peredarannya, maka wilayah orang yang bunuh diri pun semakin luas. Misalnya pada saat Marilyn Monroe memilih untuk bunuh diri, maka pada bulan tersebut angka bunuh diri di Amerika Serikat meningkat sampai 12 persen.
Bila seseorang melakukan bunuh diri dengan menabrakkan mobilnya ke pohon, dan diberitakan di headline media massa suatu daerah, maka dalam sepuluh hari ke depan angka kecelakaan meningkat tajam dengan kasus serupa.. Angka kecelakaan menurun menjadi normal setelah sepuluh hari.
Berita di media seolah-olah memberikan sebuah inspirasi pada pembacanya. Inspirasi cara untuk menyelesaikan masalah, memberikan sebuah pembenaran bahwa suatu cara boleh ditempuh.
Menurut Philips, cerita tentang bunuh diri adalah semacam iklan alami tentang salah satu cara memecahkan masalah
Selain media massa, lingkungan sekitar kita juga sangat memengaruhi pengambilan keputusan kita. Misalnya, kita menerobos lampu merah karena melihat yang lain melakukan hal yang sama. Atau yang menarik lagi misalnya bila Anda berada di antrean lampu merah dan mobil Anda ada di urutan ke-empat atau kelima, lalu muncul seorang pengemis atau pengamen dan mendekati mobil yang berada di urutan pertama. Bila pengemudi tersebut memberi sejumlah uang recehan kepada pengemis tersebut, kemungkinan besar pengemudi yang di urutan kedua juga akan hal serupa.
Pengemis ini akan mendapat kemungkinan yang lebih besar lagi di mobil urutan ketiga dan seterusnya. Saya tidak tahu apa ini namanya. Namun bila saya melihat hal itu terjadi di depan saya, saya atau paling tidak teman yang duduk di sebelah saya juga akan ikut-ikutan. Kita semua seolah-olah mendapat izin untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan orang lain.
Efek penularan ini bukan sesuatu yang rasional atau terjadi secara sadar. Penyebarannya tidak bersifat persuasif, namun lebih samar daripada itu.
Kembali ke maraknya bunuh diri anak yang terjadi di sekitar kita sekarang ini, kita tahu bahwa ada banyak sekali faktor yang memengaruhi seorang anak untuk melakukan tindakan nekad tersebut Untuk itu, mungkin tip di bawah ini bisa dilakukan untuk menghindari bunuh diri terjadi pada buah hati kita.
1. Saringlah informasi yang masuk
Menghindarkan anak dari tontonan berita-berita kriminal yang marak di televisi adalah langkah yang baik agar anak berpandangan baik tentang dunia ini. Selain itu, menghindari berlangganan majalah, tabloid atau koran yang memuat banyak berita-berita gosip atau kekerasan adalah tindakan bijak lainnya.
2. Pilih mainan yang digunakan
Temani dan arahkan anak Anda untuk memilih permainan yang digemari. Akan baik sekali bila permainan yang Anda beli untuk si kecil adalah permainan yang mengasah kemampuan sensorik dan motoriknya.
Bila membeli DVD untuk video game, hindarkan permaianan yang mengandung unsur kekerasan.
3. Belajarlah mendengar
Banyak masalah anak yang berasal dari kurangnya komunikasi dari orang tua kepada buah hatinya. Komunikasi merupakan kemampuan yang paling penting dalam dunia ini. Kita menghabiskan sebagian besar hidup kita untuk belajar membaca dan menulis. Kita juga menghabiskan waktu untuk belajar berbicara yang baik, namun bagaimana dengan mendengarkan?
Jika kita ingin berinteraksi secara efektif dan mengerti kebutuhan anak secara utuh, kita perlu mengerti apa yang diinginkan anak secara detail dan mendalam. Untuk ini, kita harus mendengarkan secara empati, melihat dengan kacamata si kecil.
Kebanyakan dari kita merasa lebih pintar dan lebih tahu apa yang dibutuhkan anak, sehingga kita jarang mau mendengar mereka secara mendalam. Kita sering sekali memotong perkataan mereka dan memberikan contoh masa lalu kita.
Coba kita tengok sebentar, ketika seorang anak ingin meminta pengertian dari ayahnya mengenai keengganannya untuk melajutkan sekolah, hampir semua ayah tak mencoba memahami alasannya. Alih-alih sang ayah langsung menimpali dengan menceritakan bahwa dirinya bisa sukses karena dulu ia rajin sekolah.
Ketidakpuasan anak karena tidak dimengerti akan membuat anak menjadi pasif dalam berkomunikasi dengan orang tua. Anak akan menjawab seperlunya dan ini akan menjadi cikal bakal tindakan-tindakan nekad sang anak, terutamapada anak laki-laki.
Statistik menunjukkan bahwa empat dari lima orang yang bunuh diri adalah pria.. Hal ini disebabkan pria lebih sedikit berbagi, tidak boleh menangis, dan lebih jarang berpelukan. Padahal curhat atau berbagi, berpelukan dan menangis adalah pelepasan emosi dalam bawah sadar yang sangat baik.
Akankah kita segera belajar untuk mendengar atau membiarkan segala sesuatunya terlambat?
Sukses Tidak Punya Aturan
Sukses dan bahagia, mungkin inilah dua hal yang paling diinginkan setiap orang. Sukses sering dikonotasikan dengan pencapaian materi, misalnya rumah besar di perumahan elite, mobil mewah atau karier yang cepat naik, sejumlah deposito dan lain sebagainya. Ssementara bahagia sering diartikan sebagai sebuah perasaan yang damai, tenang, atau secara kasat mata kita melihat orang yang berbahagia adalah orang yang selalu tersenyum.
Penilaian masyarakat tentang arti sukses dan bahagia tidaklah salah kalau kita melihat dari kacamata umum yang ada di masyarakat. Namun secara individu, kacamata yang dipakai beramai-ramai ini tentu tidak selalu cocok untuk setiap penggunanya. Dengan kata lain, sukses sifatnya sangatlah pribadi. Pak Jono misalnya, yang senang berkeluyuran dengan sedan hitam mulus bermerek BMW, menurut masyarakat di sekitar tempat tinggalnya, Pak Jono dianggap sebagai orang yang sukses. Namun menurut Pak Jono sendiri, sukses baru dirasakan atau diperoleh kalau dia sudah mempunyai mobil sedan merek Jaguar terbaru. Bila sukses ukurannya bisa sangat individu, apalagi dengan kata yang satu lagi, yaitu “bahagia”.
Tanpa ingin masuk di wilayah pribadi setiap individu tentang ukuran sukses apalagi bahagia, izinkan saya untuk berada di wilayah umum di mana ukuran sukses dilihat secara dangkal dan samar.
Buku-buku tentang bagaimana seseorang bisa menjadi sukses banyak sekali diterbitkan, begitu juga dengan seminar-seminarnya. Dalam buku atau seminar tersebut Anda akan menjumpai sejumlah kumpulan syarat dan apa yang harus dilakukan atau sikap apa yang diperlukan seseorang bila ingin merengkuh kesuksesan. Satu syarat yang sering kita dengar adalah seperti: untuk sukses seseorang haruslah mempunyai karakter yang positif bukan negatif, seperti rasa percaya diri atau optimis.
Tanpa ragu lagi, apa yang dicontohkan di atas adalah sesuatu yang baik dilakukan untuk meraih kesuksesan. Namun bagaimana dengan sahabat-sahabat yang lain yang tidak mempunyai karakter seperti diharapkan dari buku dan seminar itu? Atau sahabat yang susah untuk berubah? Apakah mereka semua adalah orang-orang yang tidak sukses? Atau tidak akan pernah bisa sukses?
Atau sebaliknya, mereka yang menerapkan prinsip dari orang-orang sukses yang ditulis dalam buku pasti akan menjadi sukses? Pada kenyataannya, yang kita lihat di sekitar kita tidak seperti itu, bukan? Banyak juga dari mereka yang mempunyai karakter “negatif” dapat menjadi sukses dalam material, dan tidak sedikit yang “positif” malah tidak mencapai hasil yang diharapkan.
Mark Twain contohnya, dia adalah orang yang sangat pesimis, skeptis dan sarkastis. Kita bisa melihat dari tulisan-tulisan yang dibuatnya, semua bertutur tentang ras manusia yang minus. Namun kemampuan yang unik dari seorang Mark Twain inilah yang menjadikan dirinya meraih kesuksesan. Sifat negatifnya justru menjadikannya seorang sastrawan jenius yang diakui oleh dunia.
Contoh lainnya adalah seorang penulis juga yang telah mengharumkan nama negeri tercinta ini, Pramoedya Ananta Toer. Maestro yang baru saja melepaskan jasadnya dan meninggalkan kita dengan kenangan yang dalam ini pun memanfaatkan ke-“negatif”-annya yaitu kekurangpercaya-diriannya sejak masa kecilnya. Pramoedya kecil mulai belajar menulis, dia menuangkan semua isi hatinya melalui guratan pena karena dia tidak mempunyai keberanian untuk berbicara. Kekuatan yang terpendam dari ketidakberanian inilah yang menjadi bahan bakar dahsyat yang menjadikannya penulis Indonesia yang tak tergantikan.
Bukan hanya dalam karakter atau sifat, bahkan dalam bentuk fisik sekalipun sesuatu yang “di-cap” jelek dapat mengahasilkan rezeki dan kesuksesan yang sama. Anda bisa melihat seorang pelawak, yang mempunyai bentuk dan ukuran tubuh yang dianggap tidak wajar, dapat memanfaatkan yang mereka miliki menjadi ladang penghasilan yang tak terkira sebelumnya.
Kita semua telah di-“program” oleh peradaban yang kita semua tidak tahu asal muasalnya. Kita telah diprogram untuk meyakini tingkah laku tertentu adalah positif dan yang lainnya adalah negatif. Orang sukses adalah orang yang positif, sementara yang negatif pasti gagal. Karena itu, kita menguras habis energi kita untuk mengubah diri daripada memusatkan perhatian kita pada keistimewaan yang kita miliki dalam berupaya meraih sukses.
Anda bisa sukses dengan “positif” dan Anda juga bisa sukses dengan memiliki faktor “negatif” di dalam diri Anda. Sifat-sifat negatif yang ada dalam diri Anda tidak akan menghalangi usaha Anda dalam meraih kesuksesan. Sifat-sifat itu adalah bagian dari diri Anda. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa belajar mencintai, menerima dan memanfaatkannya.
Apa pun kenegatifan Anda, buatlah itu sebagai lahan untuk mendapatkan nilai tambah dalam hidup Anda. Bila Anda susah untuk bangun pagi, maka Anda bisa mencari pekerjaan dengan jam kerja malam yang kemungkinan Anda dibayar lebih tinggi. Bila kenegatifan Anda suka melahap makanan lezat saja, carilah pekerjaan sebagai koki atau tulislah buku tentang tempat-tempat makan yang terbaik di kota Anda. Atau bila sesuatu yang negatif di diri Anda adalah suka menonton film, jadilah kritikus film.
Jika Anda belum menemukan pekerjaan seputar “kenegatifan” Anda, maka pikirkan sesuatu yang kreatif, sesuatu yang belum terpikir oleh orang lain.
Di dalam setiap hal, baik positif ataupun negatif, selalu tersimpan aset yang luar biasa yang selalu menanti untuk ditemukan. Misteri kehidupan ini tidak di mana-mana, itu tersembunyi di dalam sifat Anda.
Pencipta kita sangatlah Adil, dia memberikan segala sesuatunya dengan baik. Bila dia menciptakan orang percaya diri, dia juga menciptakan seseorang yang minder, namun keduanya adalah baik. Keduanya pun sama-sama mempunyai kelebihan, dan kesuksesan bisa diraih oleh keduanya.
Kalau seperti ini ceritanya, maka sepertinya sukses tidak memiliki peraturan bukan? Sukses dapat menghampiri mereka yang optimis, juga menyapa yang pesimis, sukses dapat berlabuh pada seorang yang cekatan dan keras, namun sukses juga mendarat pada para sahabat yang lambat dan fleksibel.
Sekarang, apakah Anda ingin membenci sifat-sifat negatif yang melekat dalam diri Anda, berusaha untuk menyingkirkannya dengan sekuat tenaga, atau merangkulnya, menjadikannya sebagai sahabat dan memanfaatkannya? Semua tergantung sepenuhnya pada Anda


9 December 2009 at 13:16
[...] * Gobind Vashdev adalah seorang trainer, public speaker, praktisi hipnosis, dan juga seorang pesulap. Ia tinggal di Ubud, Bali, dan telah menerbitkan buku perdananya berjudul Happiness Inside. Gobind dapat dihubungi melalui pos-el: v_gobind[at]yahoo[dot]com atau di blog-nya: http://happinessinside.wordpress.com/article/. [...]
18 December 2009 at 10:17
[...] article [...]